Peran Gen-Z dalam Transformasi Sistem Pangan: Upaya Mempertahankan Konsumsi Pakis sebagai Pangan Lokal di Sukamade, Jawa Timur

Pakis (Diplazium esculentum) termasuk paku liar yang dapat dikonsumsi (edible plant) dan mampu beradaptasi dengan baik terhadap perubahan lingkungan. Tumbuhan hutan ini dimanfaatkan sebagai sumber pangan lokal di Desa Sukamade dan Rajegwesi, Banyuwangi, Jawa Timur. Kedua desa ini berlokasi pada kawasan hutan konservasi yang sama, yaitu Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), dan terletak berdekatan satu sama lain.  Letaknya yang berdekatan mengakibatkan keduanya bergantung pada sumber daya hutan yang sama dan memiliki budaya yang serupa. Saat ini, konsumsi pakis di Rajegwesi mulai menurun akibat perubahan penggunaan lahan hutan, sehingga semakin sulit untuk memperoleh pakis dari alam, dibarengi dengan masuknya makanan cepat saji. Di sisi lain, tingkat konsumsi pakis di Desa Sukamade masih cukup tinggi, namun hal ini tetap perlu menjadi perhatian agar ketersediaan dan tingkat konsumsi pakis tetap terjaga. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan upaya mempertahankan konsumsi pakis di Sukamade.

Pakis mengandung makronutrien dan mikronutrien yang penting bagi kesehatan. Dalam 100 gram daun pakis mengandung energi sebesar 39 Kkal, 4.5 gram protein, 0.4 gram lemak, 6.9 gram karbohidrat, 2 gram serat pangan, 136 miligram kalsium, 159 miligram fosfor, 2.3 miligram zat besi, 2.5 miligram Vitamin C, dan 86.8 gram air[1]. Kandungan gizi ini memenuhi 2% dari Angka Kecukupan Gizi/AKG total 2.150 Kkal[1]. Dibandingkan dengan sayuran hijau lainnya, seperti kangkung, pakis memiliki kandungan energi, protein, dan kalsium yang relatif lebih tinggi, berturut-turut sebesar 71.8%, 48.8%, dan 50.7%[2]. Sementara itu, apabila dibandingkan dengan bayam, kandungan energi, protein, dan zat besi pakis relatif lebih tinggi sebesar 41.0%, 36.4%, dan 34.8%, secara berturut-turut[3].

Selain sebagai sumber vitamin dan mineral, pakis juga mengandung senyawa fitokimia meliputi alkaloid, flavonoid, glikosida, fenolik, tanin, terpenoid, dan steroid yang berperan sebagai anti-oksidan, anti-inflamasi, antimikroba, dan imunomodulator (mengatur respon imun tubuh)[4]. Berdasarkan beberapa penelitian, bagian tubuh pakis lainnya, seperti akar, rimpang dan pelepah pakis, dapat dimanfaatkan dan berkhasiat untuk mengatasi beberapa gejala penyakit, seperti rematik, cacar, batuk berdahak, penawar racun, diabetes dan oligospermia (jumlah sperma sedikit)[5][6][7][8]. Berdasarkan kandungan gizi dan nilainya sebagai tumbuhan obat, perlu dilakukan upaya untuk mempertahankan konsumsi pakis sebagai pangan lokal di Sukamade.

Pentingnya mempertahankan konsumsi pakis di Sukamade memerlukan upaya transformasi di berbagai dimensi pangan dan sinergitas antar berbagai pihak. Peranan pakis dalam menjaga maupun meningkatkan ketahanan pangan keluarga di Sukamade perlu diberi perhatian lebih, terutama dari masyarakat di Sukamade itu sendiri. Selain itu, mempertahankan tradisi mengonsumsi pakis di tengah pengaruh globalisasi merupakan salah satu cara untuk melestarikan budaya pangan yang sangat beragam di Indonesia.

Upaya untuk mempertahankan konsumsi pakis di Sukamade dapat dilakukan melalui perancangan suatu program, contohnya ‘One Gen-Z, One Step CLOSER’. Rancangan program ini diajukan untuk melestarikan pakis di Sukamade, baik dari aspek pangan maupun budaya. ‘CLOSER’ merupakan akronim yang terdiri dari Collaboration, Opportunity, Sustainability, Education, dan Resilient. Program ini diharapkan menjadi sebuah inisiasi untuk menggagas kolaborasi antar berbagai pihak, pemberdayaan masyarakat, serta peningkatan peran gender, terutama perempuan di Desa Sukamade.

Collaboration dapat diwujudkan melalui inisiasi kolaborasi antara Pihak TNMB, para stakeholder, serta pihak ketiga contohnya Gen-Z untuk bersama-sama menghasilkan suatu rencana kerja terkait konsumsi pakis. Pihak TNMB dan stakeholder berperan sebagai fasilitator sementara Gen-Z berperan sebagai pendukung (supporting) terutama dalam menyumbangkan sebuah ide. Pola konsumsi pangan yang dinamis mengharuskan masyarakat beradaptasi dan berinovasi untuk menjaga pola konsumsi di masa lalu. Dalam situasi ini, Opportunity dilakukan melalui diversifikasi dan inovasi jenis masakan pakis yang disesuaikan dengan selera masyarakat, misalnya memadukan masakan pakis dengan sumber protein lain seperti ikan dan telur. Inovasi lain yang dapat dieksplorasi adalah keripik pakis aneka rasa. Inovasi ini termasuk bentuk adaptasi pengolahan bahan pangan lokal agar menghasilkan produk sesuai selera pasar sehingga dapat meningkatkan permintaan (demand) di masyarakat. Implementasi dari Opportunity, yaitu dengan pelaksanaan demo masak dengan target ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga menjadi target utama karena mereka memiliki peran sentral dalam menentukan konsumsi pangan anggota keluarganya.

Sustainability dilakukan untuk menjaga nilai konservasi pakis melalui budidaya di tingkat rumah tangga, dengan harapan masyarakat dapat dengan mudah mengakses pakis tanpa perlu memasuki hutan. Budidaya dilakukan dengan menaburkan spora bawah permukaan daun pada media cacahan akar pakis yang sudah direbus selama 10-12 jam. Setelah bibit muda tumbuh, pemisahan dan pemindahan ke media baru dilakukan agar pertumbuhannya tidak terganggu. Bibit siap ditanam setelah tumbuh cukup besar, biasanya pada umur tiga bulan[8].

Education diaplikasikan dengan memperkenalkan berbagai olahan pakis pada tradisi ‘Petik Laut’. Petik laut merupakan tradisi tahunan dari kedua desa sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil laut. Reintroduksi olahan pakis pada ‘Petik Laut’ juga diharapkan dapat mengingatkan masyarakat Rajegwesi terkait konsumsi pakis yang sudah mulai ditinggalkan. Selain itu, melalui momentum ini nilai budaya pangan lokal dapat tercermin dengan baik. Penyajian olahan pangan lokal dalam peristiwa penting termasuk bentuk upaya promosi serta penguatan identitas bangsa. Program-program yang dirancang ini diharapkan bersifat Resilient serta mampu mendukung ketahanan pangan melalui pemenuhan pola makan yang sehat, melindungi alam, memenuhi rantai pasok pangan lokal, dan terwujudnya keadilan gender[9]. Secara keseluruhan, program Opportunity, Sustainability, serta Education dapat mendukung pemberdayaan masyarakat yang kemudian berpotensi menguntungkan secara ekonomi, terlebih Desa Sukamade dikenal sebagai desa wisata.

Kesimpulannya, pakis merupakan jenis tumbuhan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Sukamade. Kekhawatiran akan hilangnya budaya mengonsumsi pakis perlu adanya tindakan preventif yang melibatkan masyarakat sebagai aktor utamanya. ‘One Gen-Z, One Step CLOSER’ merupakan inisiasi yang dapat dilakukan untuk mempertahankan budaya konsumsi pakis secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara generasi Z dengan pihak yang terlibat dan masyarakat sekitar.

  

Referensi

[1]AhliGiziID. (21 Agustus, 2018). Informasi nilai gizi: Daun pakis segar. NilaiGizi.com. Diakses pada 18 Agustus 2023. https://nilaigizi.com/gizi/detailproduk/441/nilai-kandungan-gizi-daun-pakis-segar.

[2]AhliGiziID. (21 Agustus, 2018). Informasi nilai gizi: Kangkung segar. NilaiGizi.com. Diakses pada 18 Agustus 2023. https://nilaigizi.com/gizi/detailproduk/482/nilai-kandungan-gizi-kangkung-segar.

[3]USDA. (28 Oktober, 2021). FoodData Central: Spinach, mature. U.S. Department of Agriculture. Diakses pada 14 September 2023. https://fdc.nal.usda.gov/fdc-app.html#/food-details/1999633/nutrients.

[4]Semwal, P., Painuli, S., M. Painuli, K., Antika, G., Tumer, T.B., Thapliyal, A., N. Setzer, W., Martorell, M., M. Alshehri, M., Taheri, Y., Dastan, S.D., Ayatollahi, S.A., Petkoska, A.T., Sharifi-Rad, J., dan C. Cho, W. (2021). Review article: Diplazium esculentum (Retz.) Sw.: Ethnomedicinal, phytochemical, and pharmacological overview of the Himalayan ferns. Oxidative Medicine and Cellular Longevity, 2021: 1-15.

[5]M. F. Kadir, M. S. B. Sayeed, N. I. Setu, A. Mostafa, dan M. Mia. (2014). Ethnopharmacological survey of medicinal plants used by traditional health practitioners in Thanchi, Bandar-ban Hill Tracts, Bangladesh. Journal of Ethnopharmacology, 155(1): 495–508.

[6] R. Pegu, J. Gogoi, A. K. Tamuli, dan R. Teron. (2013). Ethnobotanical study of wild edible plants in Poba Reserved Forest, Assam, India: multiple functions and implications for conservation. Research Journal of Agriculture and Forestry Sciences, 2320(6063).

[7] H. Tag, P. Kalita, P. Dwivedi, A. Das, dan N. D. Namsa. (2012). Herbal medicines used in the treatment of diabetes mellitus in Arunachal Himalaya, northeast, India. Journal of Ethnopharmacology, 141(3): 786–795.

[8]Souhaly, Y., Matdoan, M.N., dan S.I.A Salmanu. (2018). Analisis kandungan vitamin A pada daun paku-pakuan (Diplazium escelentum (Retz.) Sw.) berdasarkan proses pemasakan. Biopendix, 4(2): 63-10.

[9]FOLU. (2022). Mengenal sistem pangan dan kerangka berfikir sistem. The Food and Land Use Coalition.

 

Komentar